Dua Bangsawan Luwu


Aletheia.id – Setiap perayaan adalah memanggil peristiwa dari masa lalu, sekaligus  juga mungkin kehendak memanggul masa depan. Selalu ada saja yang heroik mungkin juga getir. Dibalik heroisme, orang besar tampil sebagai “raja-raja” masa depan.

Nun, dimasa lalu kerajaan Luwu, Andi Djemma melakon diri sebagai raja lokal yang nasionalis. Ia menjadi orang besar, bukan karena ia bergelar Datu Luwu, tetapi karena ia menciptakan momen besar. Momen ketika ia memosisikan masyarakat sebagai  akar tumbuhnya keputusan; melawan kolonialisme Belanda.

1946, Bendera merah putih berkibar, para kolonial Belanda mengancam; “turunkan bendera itu, merah putih !!! Tapi, Andi Djemma memilih tak takluk dari ancaman, ia memilih menjadi pahlawan. 

“Jika saya menurunkan bendera Merah Putih, maka rakyat saya akan membunuhku, jika saya tak menurunkannya, kalian (Belanda) yang membunuhku, karena itu, aku memilih mati ditangan kalian, dibanding ditangan rakyatku”.

Kata – kata itu berbeban makna, memanggil gelora berlawan. Bahasa itu memang singkat, tetapi dari sana ekpresi sosial menemukan energinya, kata perjuangan pun lahir begitu gagahnya dalam setiap jiwa rakyat. Kita tak bisa mencari jawaban bagaimana bisa nasionalisme begitu cepat tumbuh. 

Baca juga : Wajah Autokrat Pasca Pemilu 2019

Tetapi, kita segera mengangguk, bukankah memang  “manusia besar”dengan mudah memesona rakyatnya; aku memilih mati ditangan kalian, dibanding ditangan rakyatku. Dengan itu, Andi Djemma ‘menenggelamkan’ rakyat dalam narasi kepahlawanan.  Sebab itu, 23 Januari 1946, herosime itu dirayakan, dan kita, menemukan manusia Luwu berkode kebangsawanan. Bergerliya dan diasingkan.

Tak hanya Andi Djemma, Opu Daeng Risaju memenggal kebangsawan trah- darah. Andi Kambo, hendak membebaskannya, tapi dengan syarat. Perempuan paru baya itu, harus berhenti melawan kolonialisme. Kita kembali dibuat terkhenyak, sekaligus takjub.

‘Jika karena darah kebangsawanan yang mengalir dalam darahku lalu kalian memintaku berhenti berjuang, irislah kulitku, keluarkan darah kebangsawanku”. 


Penolakan yang heroik, sosok wanita paruh baya itu, memanggulkan kita beban. Memang dibalik yang heroisme itu, kita harus juga sadar bahwa ada yang getir, wanita itu meninggal dalam pengasingan.

Bergerliya, dan diasingkan. Dua hal yang sama, sebagai konsekwensi bagi manusia besar. Mereka menjauh dan dijauhkan dari hiruk pikuk rasa nyaman, tapi mereka tak asing dari jiwa rakyat. Di belantara hutan, dan dipenjara, mereka mendekatkan diri pada rakyat. Mendekap pembebasan.

Andi Djemma pula Opu Daeng Risaju, tidak memanggulkan senjata untuk kita, keduanya, memanggulkan kita alasan- alasan perlawanan, memberikan pilihan – pilihan terhormat membicarakan masa lalu pula masa depan.

Lalu benarkah kita merayakan heroisme itu, tanpa alih alih siapa yang “bangsawan”. Kini, Provinsi Luwu raya digelorakan, ia diselimuti kabut heroisme, tetapi, mungkin raja raja kecil bersiap menjemput itu, dan akan meninggalkan heroisme. Mungkin.

Kini wija to Luwu perlu bertanya, Benarkah provinsi Luwu raya, untuk untuk masyarakat. Ataukah , mungkin, untuk mereka yang siap menyisihkan masyarakat .

Kita memang selalu terbiasa merayakan, tetapi ingatan kita sekedar pesta, ingatan kita bukan ingatan kultural. Kepada dua tokoh besar itu, kita mengucap raya, selamat hari perjuangan rakyat Luwu.

Penulis : Hajaruddin A, M.Si