Luwu Timur, Aletheia.id – Ekonomi Kabupaten Luwu Timur memang terkontraksi 2,31 persen pada Triwulan I-2026 akibat pelemahan sektor pertambangan. Namun di balik penurunan tersebut, sektor non-tambang justru tumbuh 13,87 persen, tertinggi dalam lima tahun terakhir, sekaligus menjadi sinyal menguatnya sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru di luar sektor ekstraktif.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Luwu Timur mencatat pelemahan sektor pertambangan masih menjadi faktor utama yang menekan pertumbuhan ekonomi daerah secara tahunan (year-on-year/y-on-y). Penurunan produksi pertambangan bijih logam berdampak signifikan karena sektor ini masih menjadi penopang utama struktur ekonomi daerah.
Kepala BPS Luwu Timur, Abdullah Pannu, menjelaskan sektor pertambangan memiliki kontribusi sebesar 38,05 persen terhadap perekonomian daerah. Karena porsinya yang besar, setiap perubahan produksi pada sektor tersebut akan langsung memengaruhi kinerja ekonomi secara keseluruhan.
“Salah satu faktor yang memengaruhi adalah kebijakan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang membatasi produksi pada kisaran 25 hingga 30 persen,” kata Abdullah kepada Aletheia melalui sambungan telepon, Jumat (12/6/2026).
Meski demikian, kontraksi ekonomi tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi seluruh lapangan usaha di Luwu Timur. Di luar sektor pertambangan, aktivitas ekonomi justru menunjukkan pertumbuhan yang kuat.
Menurut Abdullah, apabila sektor pertambangan dikeluarkan dari perhitungan, ekonomi non-tambang Luwu Timur tumbuh 13,87 persen. Capaian itu menjadi yang tertinggi dalam lima tahun terakhir dan menunjukkan semakin kuatnya aktivitas ekonomi yang berbasis pada sektor-sektor produktif masyarakat.
Pertumbuhan tersebut ditopang sejumlah lapangan usaha utama. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh 24,35 persen, disusul konstruksi 14,85 persen, administrasi pemerintahan 3,98 persen, perdagangan besar dan eceran 3,95 persen, serta industri pengolahan 3,91 persen.
Kinerja tersebut menunjukkan struktur ekonomi Luwu Timur perlahan bergerak menuju pola yang lebih beragam. Jika selama ini pertambangan menjadi motor utama pertumbuhan, sektor-sektor berbasis produksi masyarakat, pembangunan, dan jasa mulai memainkan peran yang semakin penting.
Secara kuartalan (quarter-to-quarter/q-to-q), pertumbuhan tertinggi tercatat pada sektor administrasi pemerintahan yang mencapai 44,17 persen. Sektor konstruksi tumbuh 30,29 persen, transportasi dan pergudangan 21,49 persen, real estat 15,60 persen, serta penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 13,68 persen.
Abdullah menjelaskan pertumbuhan tersebut didorong oleh meningkatnya aktivitas pembangunan fasilitas perusahaan, kawasan perumahan, hingga pengembangan kawasan industri yang memicu pergerakan sektor konstruksi dan berbagai usaha pendukung lainnya.
Pada saat yang sama, realisasi belanja pemerintah pada awal tahun, termasuk pencairan tunjangan hari raya (THR) aparatur sipil negara (ASN), turut meningkatkan daya beli masyarakat dan aktivitas ekonomi di berbagai sektor.
“Peningkatan mobilitas penduduk, perdagangan, jasa, transportasi, akomodasi, dan usaha makan minum ikut memperkuat kinerja ekonomi non-tambang,” ujarnya.
Dari sisi kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi secara kuartalan, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi penyumbang terbesar dengan andil 1,78 persen. Sektor administrasi pemerintahan menyumbang 1,29 persen, sementara sektor real estat memberikan tambahan 0,11 persen.
Besarnya kontribusi sektor pertanian menunjukkan sektor ini masih menjadi fondasi utama ekonomi masyarakat Luwu Timur. Di tengah perlambatan sektor pertambangan, aktivitas pertanian tetap mampu menjaga perputaran ekonomi hingga ke tingkat desa dan kawasan perdesaan.
Data BPS juga memperlihatkan mulai menguatnya gejala diversifikasi ekonomi di Luwu Timur. Ketika sektor pertambangan menghadapi tekanan, sektor pertanian, konstruksi, perdagangan, jasa, dan aktivitas pemerintahan mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi daerah.
Meski ketergantungan terhadap pertambangan masih relatif tinggi, menguatnya sektor-sektor non-tambang menunjukkan struktur ekonomi Luwu Timur mulai bergerak lebih beragam. Kondisi ini dapat menjadi modal penting bagi ketahanan ekonomi daerah dalam menghadapi fluktuasi sektor pertambangan pada masa mendatang.
