Kutai Timur, Aletheia.id – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Agung Al-Faruq, Bukit Pelangi, Sangatta, saat Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah/2025 Masehi pada Senin (8/9/2025). Namun di balik lantunan salawat dan doa, terselip pesan penting dari Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, yang menyinggung persoalan serius terkait tingginya angka anak tidak sekolah (ATS) di daerah tersebut.
Dalam sambutannya, Bupati Ardiansyah menegaskan bahwa salah satu penyebab banyaknya anak di Kutim tidak mengenyam pendidikan adalah ketiadaan akta kelahiran. Hal ini, menurutnya, berakar dari maraknya praktik pernikahan tidak tercatat atau nikah siri. Kondisi tersebut berdampak langsung pada masa depan anak-anak, karena akta kelahiran merupakan syarat administratif masuk sekolah.
“Banyak anak tidak sekolah karena tidak punya akta kelahiran. Orang tuanya menikah di bawah tangan, tidak tercatat di KUA. Ini jadi penyebab utama angka ATS cukup tinggi di Kutim,” ujar Ardiansyah di hadapan jamaah yang hadir.
Ia menekankan pentingnya langkah konkret dari Kantor Kementerian Agama (Kemenag) untuk melakukan inventarisasi pernikahan siri di Kutim. Bupati meminta agar keluarga yang menikah tidak tercatat segera mengikuti proses isbat nikah maupun perceraian melalui pengadilan agama, sehingga hak-hak anak dapat terjamin secara hukum.
Selain menyampaikan pesan penting tersebut, Bupati Ardiansyah juga mengapresiasi kehadiran para tokoh agama, pejabat, ASN, serta guru-guru yang turut serta dalam peringatan Maulid Nabi. Ia menilai momentum keagamaan ini bukan sekadar seremoni, tetapi juga ruang untuk memperkuat komitmen moral dan sosial di tengah masyarakat.
Penceramah dalam acara ini, H. Maslekhan dari Kemenag Provinsi Kalimantan Timur, hadir menyampaikan tausiyah seputar hikmah Maulid Nabi Muhammad SAW. Kehadirannya menambah nuansa religius sekaligus menjadi pengingat bagi jamaah akan keteladanan Rasulullah dalam membangun keluarga dan masyarakat yang berlandaskan syariat dan akhlak mulia.
“Peringatan Maulid ini membawa keberkahan, tetapi juga menjadi momentum introspeksi. Kita harus belajar dari Rasulullah, bagaimana beliau menempatkan keluarga sebagai fondasi utama peradaban,” kata H. Maslekhan dalam ceramahnya.
Pemerintah daerah juga menegaskan komitmennya untuk terus berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan, Kemenag, MUI, serta Basnas Kutim dalam menanggulangi masalah ATS. Upaya ini diharapkan mampu menekan angka anak putus sekolah sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan di Kutai Timur.
Peringatan Maulid Nabi kali ini akhirnya menjadi lebih dari sekadar ritual keagamaan. Ia menjelma sebagai panggung refleksi kolektif, bahwa pendidikan dan ketertiban administrasi keluarga adalah fondasi penting bagi masa depan generasi Kutai Timur.
