1 Juni, dan Hal-Hal yang Dilupakan


Opini, Aletheia.id – Setiap tanggal 1 Juni, kita kembali mengingat Pancasila sebagai dasar negara dan cita-cita bersama bangsa Indonesia. Upacara digelar, pidato disampaikan, dan slogan persatuan kembali dikumandangkan. Namun di tengah peringatan itu, ada pertanyaan yang sering kali luput diajukan: benarkah Pancasila telah menjadi ruang tumbuh bagi keragaman, keadilan, dan kesejahteraan bagi seluruh warga negara?

Pancasila lahir sebagai hasil pergulatan pikiran tentang bagaimana bangsa yang beragam dapat hidup bersama dalam satu ikatan politik yang setara. Ia bukan sekadar rangkaian lima sila yang dihafalkan, melainkan janji kolektif tentang kehidupan bersama yang menghormati kemanusiaan, menjunjung persatuan, dan menghadirkan keadilan sosial. Namun janji itu akan kehilangan maknanya jika hanya berhenti sebagai simbol dan perayaan tahunan.

Di dalam sila-sila yang dianggap sakti itu, siapakah sebenarnya kita? Apakah setiap warga negara merasakan perlindungan yang sama di hadapan hukum? Apakah suara mereka yang berada di pinggiran turut didengar dalam kehidupan politik? Apakah kesejahteraan dan kesempatan telah terbuka secara adil bagi semua? Pertanyaan-pertanyaan ini penting karena pengalaman warga negara sering kali berbeda dengan narasi resmi yang dibangun negara.

Kita hidup dalam sebuah ironi. Di satu sisi, bangsa ini bangga dengan semboyan persatuan dan keberagamannya. Di sisi lain, masih banyak warga yang merasa jauh dari keadilan dan kesejahteraan yang dijanjikan. Kita merayakan persatuan, tetapi masih menyaksikan ketimpangan. Kita memuliakan kemanusiaan, tetapi masih menemukan berbagai bentuk diskriminasi. Kita memperingati Pancasila, tetapi sering lupa menjadikannya alat untuk mengukur kenyataan yang kita hadapi.

Karena itu, memperingati 1 Juni seharusnya bukan hanya tentang mengenang masa lalu, melainkan juga tentang menguji masa kini. Pancasila tidak membutuhkan pujian yang berlebihan, melainkan keberanian untuk melihat sejauh mana cita-citanya telah diwujudkan. Sebab pada akhirnya, kekuatan Pancasila tidak terletak pada seberapa sering ia dirayakan, tetapi pada seberapa nyata ia hadir dalam kehidupan warga negara.

Betapa sering kita merayakan, tetapi tak pernah ada kegembiraan di dalamnya. Sebab yang dirayakan adalah simbolnya, sementara janji-janjinya masih menunggu untuk dipenuhi.

Penulis : Hajaruddin A, Dosen, Alumni Magister Ilmu Politik Universitas Hasanuddin