Tambang Ilegal Rusak DAS Suso, Komitmen Agribisnis Bupati Luwu Dipertanyakan


Bentang alam DAS Suso di Kecamatan Bajo Barat, Kabupaten Luwu, rusak parah akibat aktivitas tambang emas ilegal.

Luwu, Aletheia.id – Gundukan material berwarna cokelat membentang di kawasan Sungai Suso. Kolam-kolam berisi air tersebar di antara hamparan tanah, sementara sawah-sawah masih menghijau tidak jauh dari kawasan sungai. Perubahan bentang alam tersebut menjadi sorotan di tengah maraknya aktivitas tambang ilegal di DAS Suso.

Dosen STISIP Veteran Palopo Hajaruddin A. mempertanyakan keseriusan Pemerintah Kabupaten Luwu menjalankan visi pembangunan berbasis agribisnis. Menurut dia, visi tersebut berisiko berhenti sebagai rumusan normatif jika tidak menjadi pedoman utama dalam kebijakan pembangunan, terutama dalam melindungi ekosistem yang menopang pertanian.

“Bagaimana mungkin bicara agribisnis jika fondasi ekologisnya dirusak dengan semena-mena dan tidak ada tindakan serius dari pemerintah daerah?” kata Hajaruddin, Senin 12 Oktober 2026.

Ia menyoroti orientasi pembangunan yang berbicara tentang peningkatan produktivitas pertanian, termasuk target panen tiga kali setahun, tetapi dinilainya belum memberikan perhatian yang sepadan terhadap perlindungan sumber air. Padahal, ketersediaan air menjadi salah satu faktor penting bagi keberlangsungan produksi pertanian.

Bagi Hajaruddin, DAS Suso tidak semestinya dipandang sebagai persoalan lingkungan yang terpisah dari agenda pembangunan daerah. Kondisi daerah aliran sungai berkaitan dengan tata air dan keberlanjutan lahan pertanian di sekitarnya. Karena itu, kerusakan kawasan sungai akibat aktivitas tambang ilegal perlu menjadi perhatian serius pemerintah.

Warga Bonelemo Kesulitan Mendapatkan Air Bersih

Dampak aktivitas tambang ilegal di DAS Suso mulai dikeluhkan warga Bonelemo, terutama di tengah musim kemarau yang sedang berlangsung. Sungai yang selama ini menjadi tumpuan kebutuhan air masyarakat masih mengalir, tetapi airnya berlumpur sehingga tidak dapat dimanfaatkan seperti biasanya.

Baca juga: Kerugian yang Harus Dibayar Mahal: Beginilah Hancurnya DAS Suso akibat Tambang Emas Ilegal

Husain, warga Bonelemo, menyayangkan sikap Bupati Luwu yang dinilainya tidak mengambil tindakan ketika warga kehilangan akses terhadap air bersih. Saat musim kemarau, sungai menjadi salah satu sumber air yang penting bagi warga. Namun, airnya yang berlumpur membuat sungai suso sulit dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Untuk mendapatkan air, warga kini membuat sumur-sumur kecil di pinggir sungai. Mereka menggali tanah demi memperoleh air untuk kebutuhan sehari-hari, sementara air sungai yang melimpah tidak dapat digunakan karena kondisinya berlumpur.

“Kami tidak tahu kenapa Bupati Luwu tidak melakukan tindakan apa-apa saat warga kehilangan akses air bersih. Padahal, di musim kemarau, satu-satunya sumber air saat ini adalah Sungai Suso. Dari dulu warga di sini bertumpu pada Sungai Suso, tapi saat ini Bupati Luwu terkesan mengabaikan persoalan serius ini,” ungkap Husain.