Sawah 1.000 Hektare Terancam Kekeringan, Warga Pertanyakan Respons Pemda Luwu


Luwu, Aletheia.id Sekitar 1.000 hektare lahan persawahan di sejumlah wilayah hilir sistem pengairan Noling, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, terancam kekeringan. Warga menyebut air irigasi tidak mengalir selama sepekan terakhir.

Kondisi itu dirasakan petani di Desa Paccerakang hingga Tarramatekkeng dan wilayah persawahan di bagian hilir Desa Kamandre. Sejumlah lahan dilaporkan mulai mengalami kekeringan. Permukaan tanah di beberapa areal persawahan bahkan telah terbuka dan retak.

“Sudah seminggu tidak ada air mengalir di pengairan,” kata warga, Ambe’na Zafran, Jumat, 24 Juli 2026.

Menurut dia, berkurangnya pasokan air diduga dipengaruhi oleh musim kemarau yang menyebabkan debit sungai menurun. Namun, warga juga menyoroti aktivitas Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro atau PLTM Salu Noling di wilayah Bastem yang diduga turut mempengaruhi ketersediaan air pada sistem pengairan Noling.

Warga menduga adanya penampungan atau pemanfaatan air untuk aktivitas pembangkit tersebut berkontribusi terhadap berkurangnya debit air yang mengalir ke bendungan dan jaringan irigasi Noling. Akibatnya, pasokan air ke wilayah persawahan yang berada lebih jauh dari jalur distribusi disebut semakin terbatas.

“Indikasinya, debit air berkurang selain karena kemarau. Ada juga indikasi aktivitas PLTM Salu Noling yang menampung air sehingga debit air di Bendungan Noling berkurang,” ujar Ambe’na Zafran.

Kondisi lahan persawahan warga yang mulai mengalami keretakan akibat kekeringan.

Ia mengatakan, kondisi distribusi air saat ini dinilai tidak merata. Wilayah yang berada lebih dekat dengan jalur distribusi pengairan, seperti sebagian wilayah Kecamatan Bupon dan Ponrang, disebut masih memperoleh pasokan air lebih baik dibandingkan daerah yang berada di bagian hilir.

Petani khawatir kondisi tersebut berdampak serius terhadap musim tanam yang sedang berlangsung. Tanaman padi disebut masih berada dalam fase vegetatif sehingga membutuhkan pasokan air yang cukup untuk mendukung pertumbuhan.

“Jika kondisi terus begini, lahan persawahan terancam gagal panen karena masih dalam fase vegetatif,” kata dia.

Warga berharap perhatian terhadap persoalan tersebut sejalan dengan komitmen pemerintah daerah terhadap sektor pertanian yang menjadi salah satu isu utama dalam kampanye politik sebelumnya. Mereka meminta pemerintah dan instansi terkait segera melakukan pemeriksaan terhadap kondisi debit air, sistem distribusi irigasi, serta pengaruh aktivitas PLTM Salu Noling terhadap ketersediaan air bagi masyarakat.